Idris: Sang “Manusia Batu”

SO_PROFILE_IDRISSiapa yang tidak menyangka jika ada patung yang bisa berjalan? Anda akan menemukanya di halaman Museum Fatahillah, Jakarta Barat. Di kawasan wisata sejarah ini, Idris berjuang untuk mencari rezeki sebagai ‘manusia batu’. Begitu ia menyebut dirinya. Dengan tekad yang kuat, ia mantap mengadu nasib di ibukota. Tanpa ia sangka, profesi yang ia geluti dari tahun 2012, membuat Pria asal Bogor ini menjadi terkenal.

Lembaran demi lembaran uang berhasil ia kumpulkan setiap harinya. ‘Manusia batu’ membuat Idris tertarik dunia pantomim. Dunia baru yang ia masuki setelah bekerja sebagai manusia batu. Idris berharap kelak dapat bertemu dengan ‘manusia patung’ terkenal di dunia dan dapat berkunjung ke La Rambla. Nama jalan di Barcelona yang terkenal sebagai tempat penjualan buku, souvenir, serta hiburan seniman jalanan. Salah satunya ‘manusia patung’ yang beraksi di Jalan yang kerap dipadati oleh wisatawan asing tersebut.  Berikut wawancara SpeedOne dengan Idris ‘Manoesia batoe’ disela waktu senggangnya.

Bagaimana awalnya, Anda memilih profesi sebagai ‘manoesia batoe’ seperti ini?

Pada tanggal 10 Juni, saya berencana untuk berdagang assesoris di Halaman Museum Fatahillah, karena belanja assesoris dekat. Dan bisa dijual keesokan harinya kalau sehari tidak terjual. Namun, ketika sampai disana, banyak sekali pedagang seperti pasar. Saya bingung dan sempat putus asa. Tapi saya sempat berpikir, “Inikan tepat wisata, pasti ada yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan uang’’. Dari pukul 12 sampai 2 siang, saya mencari ide. Tanpa sengaja, ketika saya duduk di bawah pohon mata saya tertuju kepada meriam. Setiap saya melihat meriam, selalu ada pengunjung yang foto bersama meriam itu. Kesimpulannya, kebanyakan pengunjung datang kesini membawa kamera untuk berfoto-foto unik. Munculah ide untuk menjadi patung.

Karena kalau saya menjadi patung disamping meriam, otomatis ketika pengunjung berfoto di meriam, saya juga ikut terfoto. Nah, disaat seperti itulah pengunjung memberikan apresiasi, entah itu seribu atau dua ribu rupiah. Setelah saya menemukan jalan keluar, saya langsung bergegas pulang ke rumah. Saya memberitahukan ide saya kepada Istri saya. Awalnya, beliau tidak setuju. Tapi, setelah saya jelaskan bahwa peluang itu cukup besar, akhirnya beliau menyetujuinya. Saya menyiapkan semua yang diperlukan, hingga cat tembok. Tanggal 14 Juni, pukul setengah dua siang, saya memulai memerankan ‘manoesia batoe’. Awalnya saya menggunakan cat tembok untuk mengecat wajah saya. Hal tersebut karena hanya ada cat tembok yang tersedia. Dan itu saya lakukan selama sebulan.

Jadi, bukan karena Anda telah menekuni Pantomim?

Bukan. Justru saya mempelajari gerakan pantomim setelah saya menjadi manoesia batoe. Saya selalu meluangkan waktu untuk belajar dari youtube. Sampai akhirnya saya mencari tahu manusia patung yang terkenal di dunia.

Apa alasannya memilih nama ‘manoesia batoe’? 

Awalnya ketika saya sedang duduk di batu bulat meriam yang tersebar di halaman Museum Fatahillah. Saya melihat tangan saya dan warna batu itu nyaris sama. Saat itu saya mendapatkan ide untuk memilih nama Manoesia Batoe.

Hal apa yang membuat Anda semakin tertantang untuk melanjuti profesi menjadi patung hidup?

Hari pertama saya memutuskan untuk menjadi patung hidup, saya sempat diejek “orang gila” oleh orang. Nah, saat itu saya mulai tertantang dan mantap untuk menjadi patung hidup. Kebetulan saat itu, halaman Museum Fatahillah sedang ramai karena liburan panjang anak sekolah.  Hari itu, banyak sekali pengunjung yang ingin berfoto dengan saya. Tak sadar kalau keranjang yang saya gunakan untuk menampung uang, kini mulai menggunung. Setelah dihitung, hasil kerja saya selama empat jam sebesar tiga ratus dua puluh ribu rupiah.

Setelah saya memberitahukan hasil kerja keras saya kepada isteri saya, Beliau langsung semangat melanjutkan pekerjaan ini. Saya pun langsung mencari tahu tentang bahan-bahan yang aman untuk mengecat muka. Saya langsung membeli body painting sebagai pengganti cat tembok.

Sebelum seperti sekarang, warna apa saja yang pernah Anda coba?

Saya sempat mencoba warna hitam gradasi abu-abu, orange gradasi abu-abu, hitam gradasi coklat hingga hitam gradasi putih.

Pernahkah dapat saran atau kritikan dari pengunjung tentang perubahan warna?

Kritikan sih tidak, karena mereka menyukai perubahan warnanya. Suatu saat pernah pengunjung bilang kalau warna saya menyatu dengan warna meriam. Saya pun memutuskan untuk memakai warna hitam gradasi putih sampai sekarang. [teks: @withayuliandini foto: @saesherra]

One thought on “Idris: Sang “Manusia Batu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s